Ilmu, Amal dan Ikhlas

Tuntutlah ilmu sehingga negeri China, dari dalam buaian sehingga ke liang lahat. Ayat Al-Quran pertama yang diturunkan Allah ke umatnya melalui Rasulullah juga meminta kita mencari ILMU…

Setelah kita ada ilmu apa pula hak ilmu itu??? Hak ilmu adalah AMAL. Amal tanpa ilmu menyesatkan, Ilmu tanpa amal merosakkan. Sheikh Qadir Jailani dalam bukunya mengatakan manusia tanpa ilmu itu sekali bodoh tapi manusia dengan ilmu tapi tak mengamalkan itu 7 kali bodoh.

Apa pulak hak AMAL itu?? Hak amal itu IKHLAS… amalan yang tidak ikhlas hanya sia-sia. Ikhlas ini ibarat semut hitam di atas baru hitam di malam yang gelap gelita. Apabila semut bergerak Allah pasti tau walaupun manusia tidak tahu..

Nasihat untuk aku sendiri kejarlah ilmu, amalkan dan buatlah seikhlas-ikhlasnya..kerana Allah SWT.

[ad#Mangga 300]

107 Comments

    1. Jika demikian nilai apa yang dimiliki seorang manusia yang mempunyai segudang teori dan pengetahuan namun tidak mempraktikkannya dalam dunia nyata.

      1. Pertalian ilmu dengan amal tidak hanya dituntut dari para pelajar agama dan para ahli yang mendalami suatu ilmu, melainkan juga dituntut dari setiap orang, baik yang memiliki ilmu sedikit ataupun banyak.

      2. Namun, tentunya orang-orang yang berilmu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam hal ini, kerana mereka memiliki kemampuan yang lebih.

      3. Allah SWT berfirman di dalam surat Ash-Shaff, ayat (2-3), “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sungguh besar murka Allah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

        1. Jika kita memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an, nescaya kita akan menemukan bahawa al-Qur’an senantiasa menggandengkan ilmu dengan amal.

          1. Kerana keduanya bagai dua keping mata wang, yang saling memberi erti. Inilah yang sejalan dengan ucapan Imam Ali Abi Thalib, “Iman dan amal adalah dua saudara yang senantiasa beriringan dan dua sahabat yang tidak berpisah. Allah tidak akan menerima salah satu dari keduanya kecuali disertai sahabatnya.”

          2. Masyarakat akan berlumba-lumba dalam memberikan amal shaleh satu sama lain. Imam Ali Abi Thalib berkata, “Jangan sampai ilmumu menjadi kebodohan dan keyakinanmu menjadi keraguan. Jika engkau berilmu, maka beramallah, dan jika engkau yakin maka majulah.”

            1. Dengan ilmu yang benar, serta amal shaleh maka masyarakat bergerak dari kebodohan menuju kepintaran, dari ketertinggalan menuju kemajuan dan dari kehancuran menuju kebangkitan.

  1. Tidak ada faedahnya ilmu yang tidak diamalkan. Amal merupakan buah dari ilmu, jika ada orang yang mempunyai ilmu tapi tidak beramal maka seperti pohon yang tidak menghasilkan manfaat bagi penanamnya.

      1. Begitu juga, tidak ada faedahnya teori-teori atau penemuan-penemuan yang ditemukan seorang ilmuwan jika tidak diubah menjadi perbuatan nyata. Kerana wujud dari pengetahuan itu adalah amal dan karya nyatanya.

          1. Namun, apa faedahnya ilmu teoritis jika kita tidak menerjemahkannya ke dalam ilmu praktik, dan kemudian meneruskannya menjadi perbuatan yang mendatangkan hasil?

            1. Salah-satu penyakit sosial yang paling berbahaya yang melanda berbagai umat – termasuk umat Islam – adalah penyakit pemutusan ilmu-khususnya ilmu-ilmu agama – dari amal perbuatan, dan berubahnya ilmu menjadi sekumpulan teori belaka yang jauh dari kenyataan dan penerapan.

  2. Pengertian amal dalam pandangan Islam adalah setiap amal saleh, atau setiap perbuatan kebajikan yang diredhai oleh Allah SWT. Dengan demikian, amal dalam Islam tidak hanya terbatas pada ibadah, sebagaimana ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada ilmu fikih dan hukum-hukum agama.

      1. Ilmu-ilmu ini jika dikembangkan dengan benar dan baik maka memberikan dampak yang positif bagi peradaban manusia. Misalnya, perkembangan sains akan memberikan kemudahan dalam lapangan praktikal manusia.

          1. Jadi, mengiringi ilmu dengan amal merupakan keharusan. Dalam pandangan Khalil al-Musawi dalam buku Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, hubungan ilmu dengan amal dapat difokuskan pada dua hal.

            1. Berbuat tanpa didasari pengetahuan tidak ubahnya dengan berjalan bukan di jalan yang benar, tidak mendekatkan kepada tujuan melainkan menjauhkan.

            2. Dalam ibadah harus disertai dengan ilmu. Jika ada orang yang melakukan ibadah tanpa didasari ilmu tidak ubahnya dengan orang yang mendirikan bangunan di tengah malam dan kemudian menghancurkannya di siang hari.

            3. Sedangkan kedua, sesungguhnya ilmu dan amal saling beriringan. Barangsiapa berilmu maka dia harus berbuat, baik itu ilmu yang berhubungan dengan masalah ibadah maupun ilmu-ilmu yang lain.

          2. Begitu juga, hal ini pun berlaku pada amal perbuatan yang lain, dalam berbagai bidang. Memimpin sebuah negara, misalnya, harus dengan ilmu. Negara yang dipimpin oleh orang bodoh akan dilanda kekacauan dan kehancuran.

      1. Orang yang meniru seorang ulama karena amal perbuatannya lebih banyak daripada yang menirunya karena ucapannya. Dan ini merupakan zakat dari ilmu tersebut, karena orang lain akan mengambil manfaatnya.

  3. Dan karena keagungan ilmu inilah, maka dia akan semakin bertambah dengan semakin banyak didermakan namun akan berkurang kalau disimpan. .

          1. Sisi lebih kekalnya karena barangkali ada sebuah kalimat saja yang disampaikan oleh seorang ulama, namun didengar oleh orang banyak.

    1. (1) Mengamalkannya,
      (2) tidak suka dipuji dan menyombongkan diri kepada orang lain,
      (3) semakin tawadhu’ setiap kali bertambah ilmu,
      (4) menjauhi cinta kedudukan, popularitas, dan keduniaan,
      (5) tidak mengklaim dirinya berilmu,
      (6) berprasangka buruk kepada dirinya sendiri namun berprasangka baik kepada orang lain agar tidak mencela mereka.
      Curahan rasa Bang Iwan @ ..Hidup Seorang Blogger Berkah Ramadhan DenaihatiMy Profile

Comments are closed.

OTHER POSTS

Subscribe to Denaihati

Dapatkan artikel terkini terus dalam email anda!